Opini jujur saya tentang memberikan presentasi dan public speaking

Opini jujur saya tentang memberikan presentasi dan public speaking

‘Public Speaking and Presentation? No. That’s not me.’

Kalimat diatas mungkin sering didengar oleh para orangtua saat menyuruh anaknya untuk melakukan sebuah presentasi atau public speaking. Ada kemungkinan bahwa anak-anak tersebut tidak suka public speaking karena banyak faktor, tapi faktor utama yang menghalangi mereka untuk melakukan public speaking, adalah karena mereka tidak percaya diri.

Akhir-akhir ini saya merasa bahwa orang-orang telah beranjak dari interaksi empat mata ke bentuk komunikasi yang lebih modern, yang lebih sering dipanggil sosial media dan instant messaging. Aneh sekali, mengapa ada orang yang bisa berinteraksi dengan sangat baik di sosial media, namun kesulitan untuk melakukan sebuah presentasi didepan umum? Mengapa ini bisa terjadi? Pada dasarnya, saya percaya bahwa public speaking dan menulis di sosial media memiliki kesamaan.

Keduanya bisa dipersiapkan.

Saat anda sedang mengunggah foto di Instagram atau Facebook, atau sedang menulis sesuatu di Twitter, anda biasanya akan memikirkan, apakah foto ini cukup bagus untuk diunggah atau apa kalimat ini cukup bagus untuk dibagikan? Bahkan pada saat pengambilan foto, anda pastinya memikirkan pose apa yang paling cocok untuk anda.

Hal yang sama berlaku untuk public speaking.

Anda akan secara hati-hati membuat ide-ide yang relevan, menaruh ide-ide tersebut dalam struktur presentasi atau pidato, dan mencari cara yang terbaik untuk menyampaikannya. Apabila dilihat dari perspektif yang lain, berdiskusi acak dengan teman anda secara empat mata sebenarnya lebih sulit. Seringnya, anda tidak akan memiliki waktu untuk mempersiapkan diri untuk kata-kata yang akan keluar dari mulut teman anda, tapi banyak orang bisa dengan mudah berbincang dengan fasih hanya dengan berbicara apa yang mereka pikirkan pada saat itu.

Seringkali, dibutuhkan sebuah gladi resik. Ya, kita sering berbincang secara individual dengan diri kita sendiri untuk hampir sepanjang usia kita. Tapi, kita tidak terlatih dengan baik untuk melakukan public speaking. Alasan utama mengapa kebanyakan orang berpikir bahwa public speaking lebih sulit daripada mengunggah konten di sosial media, walau kedua hal ini memiliki banyak persamaan, adalah karena mereka tidak terbiasa. Saya sendiri mengalami kesulitan dalam mempelajari bagaimana cara melakukan public speaking dengan layak. Saya bahkan tidak bisa berbicara dengan normal tanpa gagap di depan 10 orang pada waktu itu.

Sama halnya dengan mendapatkan pose atau membuat kutipan yang terbaik; dibutuhkan waktu untuk membuat diri anda nyaman dengan berbicara kepada sebuah grup. Anda mungkin akan menemukan berbagai kegagalan, dan mungkin akan mendapatkan penolakan saat menyampaikan ide anda. Tapi, hal yang sama mungkin terjadi juga pada status Facebook anda bukan! Orang-orang mungkin akan tidak menyukai apa yang anda bagikan, dan memenuhi postingan anda dengan komen yang negatif. Pada saat yang sama, hal-hal seperti ini jangan dimasukkan kedalam hati dan belajarlah dari pengalaman ini agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Ingat, semakin banyak penolakan dan komentar negatif yang mungkin datang dari setiap presentasi atau public speaking, semakin banyak yang akan anda pelajari.

Yang tersisa biasanya adalah rasa takut. Dan menaklukkan rasa takut seringkali sama dengan menantang rasa takut itu sendiri. Anda bisa mulai dengan berbagi ide kepada teman-teman dekat anda, dan seiring waktu, anda bisa mengundang lebih banyak orang ke grup tersebut untuk mendengarkan ide anda. Hanya saja, jangan lupa untuk meminta pesan dan kritik nantinya. 

Akhir kata, public speaking bukan hanya tentang berbicara. Public speaking adalah tentang memiliki rasa percaya diri, keberanian, dan kegigihan untuk menghadapi tantangan dan mengekspresikan diri anda.

 

By B.M. Hendarso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *